PONDOK PESANTREN DI KAKI GUNUNG LOMPOBATTANG
PONDOK PESANTREN DI KAKI GUNUNG LOMPOBATTANG
Ditulis pada 5 Juli 2020 oleh : Mappisara Tahuddin, MM
No. Hp: 081332705242
Di edit (tanpa mengurangi makna) dan dipublikasikan pada 22 Juli 2020 oleh mb-minalsifr.blogspot.com
PROFIL SINGKAT:
Nama pondok: PESANTREN PERMATA AL-JAMI'
Permata ini singkatan dari "Pesantren Ma'had Tarbiyah"
Al-Jami' juga singkatan "Jamaatul Muslimin"
Lokasi: Cikoro, Tompobulu, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan 92175
https://maps.google.com/?cid=9766143652984573268
PERJALANAN BAGIAN 1
Semula saya tidak bermaksud menulis tentang perjalanan selama dua hari ini. Tapi setelah saya membayangkan wajah-wajah mereka di pesantren itu, akhirnya saya memberanikan diri untuk menuliskannya di KBM ini. Siapa tau secara diam-diam ada di antara saudara-saudaraku yang mau berbagi kebahagiaan buat saudara muslim kita seiman.
Lokasi pesantrennya ada di kaki gunung Lompobattang, saya tidak mengetahui secara persis titik koordinatnya ada di pos pendakian yang ke berapa karena saya juga kali pertama menginjakkan kaki di belahan bumi yang sangat dingin itu. Setelah googling ternyata berada di 1200 mdpl tepatnya di Desa/Kel.Lembang Bu'ne Kec. Tompobulu, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan. Sungguh di luar dugaan saya, ternyata ruang kelas di sana persis sama dengan sebuah photo kenangan tahun 1979 yang pernah saya posting beberapa hari yang lalu di wall FB.
Santrinya berjumlah 52 orang, 31 akhwat dan 21 ikhwan yang mayoritas berasal dari sebuah perkampungan di NTT di mana kebanyakan dari mereka adalah muallaf. Tatkala menjelang maghrib, suasana semakin dingin menggigit tulang dan sayup-sayup suara adzan dari Masjid santri putra kedengaran merdu sekali. Kebetulan karena kami sebagai tamu sehingga rencananya diberi tempat menginap di dekat-dekat kamar mandi terbaik di pesantren ini yang lampunya tidak ada, pintunya rusak dan kebetulan saat itu air lagi tak mengalir alias dialirkan ke bak penampungan lainnya.
Masjid santri putra dan santri putri tergolong sangat bersih dan layak. Hal ini bisa ketahuan karena banyak santri yang lebih memilih berbaring di masjid ketimbang kembali ke asramanya karena asramanya ternyata atapnya bocor.
Esok harinya kami berjalan-jalan sambil keliling pondok melihat-lihat situasi...... Astaghfirullah.
Asrama dan ruang kelas mereka sangat jauh dari kata layak. Pakaian mereka begitu nampak lusuh dan sangat sederhana meskipun saya sangat malu karena semangat menutup auratnya begitu tak dipengaruhi oleh kekurangan selama ini. Menurut pengakuan pengasuh pesantren ini, berpuasa adalah kegiatan rutin di pondok ini meskipun bukan ramadhan dan bukan senin kamis. Tergantung apakah ada bahan makanan ataukah tidak.
Di sela-sela kegiatan belajar mereka, diisi dengan bercocok tanam sayur-sayuran, palawija, kopi dan bunga-bunga yang hasil penjualannnya untuk kebutuhan mereka semua sehari-hari. Miniatur kehidupan nyata benar-benar saya saksikan di sini. Proses masak memasak mereka menggunakan kayu bakar (saya ada photonya). Atap asramanya bocor sehingga di kala hujan deras, mereka mengungsi tidur di masjid.
12 orang alumni yang notabene adalah muallaf juga kembali mengabdikan dirinya membina adik-adiknya menghafal Al-Qur'an. Mereka sebagian ada yang melanjutkan ke bangku kuliah dan sebagiannya lagi hanya membina di kelas dan di asrama.
PERJALANAN BAGIAN 2
Pertama kali saya kesana bertiga. Kemudian datang kedua kalinya membawa pasukan beberapa orang.
Ada cerita yang sangat mengharukan sebelum rombongan kami ke sana. Beredar kabar bahwa ada santri yang menawarkan jasa mengangkat sayur mayur dari kebun menuju kendaraan pengumpul. Tujuan mereka hanya sekedar mengharapkan upah beras atau apa saja buat makan nanti malamnya. Dan ternyata mereka diusir oleh pak camat beserta Kapolsek karena wajah mereka kan beda (orang Flores NTT). Meskipun sudah diklarifikasi oleh pejabat setempat dengan alasan menghindari kunjungan orang luar selama pandemi covid19. Tetapi itu sangat menyakitkan dan mendorong empati bantuan kawan2 meskipun ala kadarnya untuk menuju ke sana meskipun medannya luar biasa..."
PERTANYAAN DAN JAWABAN
Pertanyaan:
Pak Mappi gimana ceritanya saudara2 flores bisa tinggal di Gowa dan membuat pesantren disana?
Jawaban:
Ada seorang alumni pesantren Darul Aman Gombara bernama Abdul Hamid yang setelah menyelesaikan kuliahnya di UMI kembali ke kampung halamannya untuk berda'wah. Menurut cerita beliau ngajar ngaji rumahan, TPQ dan seiring berjalannya waktu mendirikan semacam madrasah diniyah. Sebenarnya saya juga tidak terlalu mendalami awal mulanya, hanya konon ada orang NTT yang masuk islam atas bimbingan beliau kemudian sang muallaf ini yang membawa sesamanya orang NTT untuk bersama-sama mendalami Al-qur'an di madrasahnya ustadz Abdul Hamid ini. Menurut cerita lokasi mereka belajar sudah pernah berpindah tempat tetap di kecamatan yang sama hanya beberapa kilometerlah jarak pindahnya. Oleh karena banyak santrinya yang muallaf, banyak pihak yang menyarankan supaya yayasannya dijadikan panti asuhan saja. Tetapi ustadz Abdul Hamid tidak bersedia menjadikan panti asuhan dengan alasan anak2 ini sangat bersemangat dan cukup rajin bercocok tanam. Kebetulan lahan di sana cukup subur dan agak luaslah untuk ditanami sayur mayur. Lebih dingin dari kota Batu lah kira-kira. Oleh katena di Makassar juga cukup banyak orang asli NTT dan mereka juga persatuannya sangat baik sehingga secara alamiah santri-santri yang beranjak remaja mengajak teman-temannya mondok di sana. Meskipun orang asli Sulawesi yang mondok juga ada beberapa tetapi mereka tetap membayar biaya pendidikan dan pondokan. Tetapi yang muallaf-muallaf ini tidak ada keluarga yang menjaminnya dan ustadz Hamid juga tidak mau melepas mereka ke "alam bebas" kuatir imannya goyah dan kembali ke agama lamanya. Sehingga kalau saya tidak salah ada 12 orang yang sudah tamat Madrasah Aliyah yang kemudian dipersilakan tetap mengabdi di pondok untuk menjadi pembina adik-adiknya yang baru. Saya dengar juga sementara ini ada yang melanjutkan kuliahnnya di UIN Alauddin.
Ustadz Abdul Hamid ini kalau saya perhatikan sangat bersemangat untuk membangun pesantrennya, hanya saja karena secara geografis lokasinya sangat jauh di lereng gunung yang saya saja baru dua kali ke sana. Pulangnya mabuk perjalanan.
BAGIAN AKHIR
Penulis tak bermaksud mengumpulkan sumbangan ataupun menjadi relawan pengumpul infaq, tetapi melalui tulisan ini penulis hanya ingin berbagi bahwa di luar sana masih banyak saudara-saudara kita yang masih berjuang dan terus berjuang menghadapi kesulitannya.
Jika ingin berinfak / shodaqoh bisa transfer ke:
Pengasuh pesantren
BRI 492301000112500 a.n. Abdul Hamid B. SS, SE
atau
Markas Gowa Berbagi (Gober) Jalan Abd. Kadir Dg Suro No. 203, Samata, Gowa,
Bank Syariah Mandiri
7772210765
a. n. Taufan Abdul Salam
Konfirmasi setelah transfer
No. Hp: 081332705242 ( Mappisara Tahuddin)









